Senin, 31 Maret 2014

    Disini aku tidak menyalahkan Negara Indonesia, disini aku juga tidak menyalahkan sistem yang sudah ada sejak dulu. Tapi aku hanya berangan-angan, kenapa aku tidak dilahirkan di Negara Denmark atau bahkan negara tetangga, Negara Singapura. Negara-negara yang terlihat memukau dimataku.
    Aku adalah guru honorer salah satu SD Negeri yang berada di Jogjakarta. Setiap mengucap guru honorer. menurutku secara pribadi adalah sesuatu yang membingungkan. Satu sisi, kumulai sadari bahwa aku memang menyukai dunia pendidikan, apalagi dengan murid-murid yang kudidik sekarang. Namun, sisi lainnya adalah penghargaan dari apa yang kukerjakan selama ini dengan ikhlas ternyata sama sekali tidak sesuai, bahkan kuanggap sebagai sesuatu yang sangat merendahkanku. 
    Hal ini ditambah, baru-baru ini ada tunjangan fungsional bagi guru honorer. Tahun 2013 ada tunjangan fungsional bagi para guru honorer.  Waktu itu aku tidak mendapatkannya, dan waktu itu aku tidak terlalu mempermasalahkan karena bagiku itu hanya ada yang kurang pada saat pengentrian data. Kemudian setelah itu, aku tidak hanya berdiam diri saja, aku berusaha untuk bagaimana mendapatkan tunjangan tersebut dengan segala kualifikasinya. Tahun bergulir menuju Tahun 2014, saat menegangkan karena akan terlihat usahaku selama ini. Akhirnya, pengumuman telah dipublikasikan dan sekali lagi aku tidak dapat tunjangan tersebut. Rasa kecewa yang sangat berat ada di dalam diriku. 
    Namun orang tua selalu berpesan kepadaku untuk selalu ikhlas dalam mengajar dan mendidik siswa, kelak Tuhan akan melihat dan membalas semuanya dengan lebih baik.
    Pesan sederhana itulah yang selalu aku yakini sebagai sesuatu yang menguatkanku dari keadaanku saat ini.

1 komentar: